Minggu, 05 September 2010

Cerpen kakakku part.2


A . G .
(BY: RESKA R. PUTRI DAN RATIH)

Dinda senyum – senyum sendiri saking senagnya melihat layar hanphone-nya saat jam istirahat. Cewek manis berdarah Italia itu seakan tidak bosan membaca SMS tadi malam di inbox handphone-nya. Bola matanya yang biru tua berbalut kacamata itu tidak mau beranjak mengikuti setiap huruf pada SMS – SMS dari A.G. Ya, A.G. adalah cowok misterius yang dikenalinya lewat dunia maya. Awalnya,  Si A.G salah mengirmkan SMS yang berisikan tentang kemarahannya untuk pacarnya pada Dinda dua bulan yang lalu. Namun, 3 minggu setelahnya, mereka mulai akrab dan menjadi teman SMS-an. Yang di bahas mulai dari canda, hobby, sampai saling curhat. Sedang asyik – asyiknya baca SMS, tiba – tiba sebuah buku mendarat di kepala berambut panjang bergelombangnya.  “Aduh… Siapa, sih?” katanya seraya menoleh ke belakang. Ekspresinya langsung berubah melihat cowok yang menimpuknya tadi dan sekarang terlihat ketawa.
“Heh.. Kalo di sekolah itu nggak boleh bawa HP, tauk!” kata Adit seraya meletakkan buku yang di pakainya memukul kepala Dinda.
“Ye…, suka – suka aku! Ini kan HP-ku!” jawab Dinda seraya menjulurkan lidahnya padanya.
“Eh, aku ini kan ketua kelas di sini!” kata Adit berkacak pinggang.
“Ketua kelas saja sombong! Aku ini juga wakil ketua kelas tauk!” ucap cewek 17 tahun itu dengan nada tinggi.
“Huh.., wakil ketua kelas saja sombong!” kata cowok berkulit sawo mentah berdarah Afghanistan itu.
“Heh, kamu itu yang sombong!”ucap Dinda tak mau kalah. Beginilah kalo Dinda dan Adit sudah beradu mulut, tidak ada yang bisa menengahi mereka sekalipun ada badai sekalipun kecuali kalo ada guru BK. Karena, mereka berdualah yang paling bersih catatan pada guru BK selama 3 tahun di SMAN 255 ini. Mereka berdua juga selain suka adu mulut, mereka juga suka adu nilai. Makanya mereka berdua dari kelas X selalu sekelas di kelas unggulan SMA 255. Persaingan mereka juga terkenal oleh seluruh sekolah.
*****
“Huh…, dasar bego! Orang gila! Sok penting!” Dinda menggerutu sendiri sesampainya di kamarnya sepulang sekolah. Dinda lalu log-in di sebuah fasilitas chat. Ternyata A.G udah masuk.
A.G  : Hai, apa kabar?
dynd4: Krg baik. :(  Hbs td ada kecoa tengil di kls.
A.G  : Aha.., pasti si Adit lgi,ya?
Dynd4: Udh tau nanya! :@
A.G  : Duh.., jgn marh, dong. Nanti cantiknya hlng.
dynd4: Idih, bsa aja.
A.G  : bener, kan. Org Italia kan terkenal krn kecantikannya!:)
dynd4: Bikin GR aja kamu! Ntar ada yg marah lagi...
A.G  : Siapa??? Aku blm punya pacar kok! Kan kamu sendiri yg tahu kalo aku udah putus.
dynd4: Kupikir kamu balik lgi sama dia/udah dpt yg baru?!
A.G. : Nggak kok. Aku udah punya orang yang ku saying. Tapi nggak pernah ketemu sama orangnya.
dynd4: Hei.. kira2 kamu bisa ketemu sama aku? Aku penasaran banget sama kamu!
A.G. : Oh, ya? Penasaran Kenapa?
dynd4: Ya jelas aku pengen liat wajahmu! Emgnya kamu nggak penasaran sama aku?
A.G. : Melalui tlsan pun aku udah tau kalo kamu itu cantik! :D
dynd4: Eh, aku punya ide! Bsok ada acara 50 thn berdirinya sekolah ku.Trus, katanya org luar juga bisa dtg! Kamu bisa dtang nggak?
A.G. : Hmm.., gimana yah??
dynd4: Ayolah..!? aku pengen banget ktemu ama kamu..! Please?!
A.G.: Sorry, banget ya.. Bsok aku juga ada acara di sekolah ku! Maaf, ya!
Lama Dinda tidak membalasnya, dia sedikit kecewa.
Dinda: Ya, udah.. nggak apa2 kok! Sdikt kecewa, sih \:|
*****
Acara 50 tahun berdirinya SMAN 255 terlihat ramai oleh pengunjung. Karena selain pentas musik, seni tari dan vokal grup yang menjadi acara hiburan, ada juga basar sekolah yang didirikan di halaman luar sekolah yang luas. Ada yang menjual minuman, makanan ringan, dan juga aksesoris bertuliskan moto sekolah dan lambang sekolah. Dinda dan Adit kali ini menjadi anggota pengurus acara. Mereka berdua juga ikut dalam acara hiburan. Adit ikut vocal grup sedangkan Dinda ikut dalam pertunjukan seni tari. Kebetulan vocal grup adalah acara hiburan terakhir yang dipentaskan, dan Dinda menjadi koordinator acara vocal grup.
“Oke, vocal grup siap – siap, tinggal 5 menit lagi!” Ujarnya pada sekelompok anggota vocal grup yang tengah bersiap – siap di ruang ganti.
“Iya, tau.” teriak Adit yang sudah ganti baju padanya.
“Ih.., dasar sok tau!” jawab Dinda yang merasa tersinggung.
“Kamu yang sok ngatur!” balas Adit tak mau kalah.
“Aku kan coordinator acara ini!” Dinda berkacak pinggang.
“Dasar sombong!” ucap Adit.
“Heh.., kamu itu yang nggak tahu diri! Nurut saja susah!” Dinda bermaksud melanjutkan perang-nya lagi dngan saingannya, tapi tiba – tiba datang temannya yang member tahunya bahwa sudah harus masuk panggung. “Huh, sekarang cepat masuk sana!”komandonya.
“Kasi perintah yang benar, dong!” kata Adit lagi saat lewat di sampingnya, membuat Dinda mengepalkan tangannya pada Adit seraya menggigit bibirnya saking jengkelnya. Terdengar vocal grup telah bersuara. Dinda duduk di meja rias 1 untuk menenangkan dirinya. Tapi Dinda malah kaget melihat tumpukan baju di atas meja itu.
“Baju siapa, sih ini? Berantakan sekali” Dinda yang punya jiwa rapih, dengan spontan membereskannya. Tapi saat dia membereskan baju itu, terjatuh papan nama anggota pengurus acara. Setelah memungutnya, dia kaget melihat nama yang tercantum adalah Aditya Gunawan, yang kalau di inisial kan menjadi A.G, begitu pikiran Dinda yang sempat terlintas. Dia pun duduk termenung. Kalau di pikir – pikir, hobby A.G dan Adit sama, yaitu bermain gitar sambil bernyanyi. Dinda pernah dikirimi rekaman suaranya yang berisi nyanyian yang diiringi gitar. “Nggak, nggak mungkin.” Dinda bicara sendiri mencoba untuk menepis pikirannya. Tapi hal itu sudah tak berguna saat Handphone Adit berbunyi. Dinda terlonjak dari lamunanya dan melihat layar handphone yang berada di sebelahnya. Ternyata ada SMS yang masuk. Timbul pikiran Dinda untuk membuka SMS yang ternyata berisi iklan. Tapi, yang membuat Dinda tidak percaya, adalah SMS yang berjejer di inbox-nya. Tertulis pengirimnya ‘My Lovely dan isinya sama dengan isi SMS yang Dinda kirimkan pada Si A.G. Mengiranya hanya kebetulan, dia melihat semua SMS yang ada di inbox handphone Adit.
“Apa yang kamu lakukan dengan HP-ku?!” Adit yang telah selesai vocal grup berdiri tepat di samping Dinda yang sekarang tengah terlonjak kaget mendengar suara Adit. Melihat Dinda sedang membaca SMS di hanphone-nya, kontan Adit langsung merebutnya dari tangan Dinda.
“Adit… Kamu…” kata Dinda terbata – bata tidak percaya. Adit melihat layar hanphone-nya, ternyata sedari tadi Dinda membaca SMS yang berasal dari Dinda. “Adit… Kamu..Si A.G itu?” lanjut Dinda masih terbata – bata. Adit terdiam sejenak. Banyak juga orang yang melihatnya.
“Bukan urusanmu!” Adit buang muka. Tapi Dinda malah menangis seraya lari keluar gedung meninggalkan Adit terdiam dan terpaku. Baru kali ini dia melihat Dinda menangis. Adit terlonjak kaget ketika beberapa temannya mendorongnya keluar dan menyuruhnya untuk mengejar Dinda. Akhirnya Adit mengejar Dinda juga. Adit akhirnya menemukannya duduk memeluk lutut seraya menangis di taman belakang gedung sekolah setelah 5 menit dia berlari – larian mengelilingi SMAN 255 yang cukup luas itu. Dengan nafas yang terengah – engah dia berjalan mendekati Dinda dan duduk di sampingnya. “Dinda” katanya sambil menepuk pundak Dinda. Dinda yang menoleh kaget di buatnya dan spontan duduk agak menjauh dari Adit. Adit terdiam.
“Jadi benar, kamu itu Si A.G?” tanya Dinda sedikit marah. Adit terdiam sejenak.
“Iya, benar itu aku. Maaf . Aku..” PLAK…! Belum sempat Adit melanjutkan kata – katanya, Dinda sudah menampar duluan.
“BOHONG…! Bohong!! Nggak mungkin..!” teriak Dinda seraya berdiri. Adit pun ikut berdiri. “Kamu pasti cuma mau permainkan aku, kan! Dasar jahat..!” suara Dinda meninggi.
“Bukan.., aku nggak pernah bermaksud permainkan kamu. Aku cuma..”
“Aku nggak mau dengar!” potong Dinda samba menutup kedua telingnya dengan telapak tangannya. Adit kemudian memegang tangannya. “Untuk apa kamu berbuat seperti ini kalo kamu benci sama aku?!” lanjutnya.
“Aku tidak pernah membencimu.” Katanya sambil memegang tangan Dinda.
“Lepaskan!” Dinda menepis tangan Adit. “Lalu kenapa kamu selalu membuatku marah setiap hari?!” lanjutnya
“Karena kamu membenciku, makanya aku bersembunyi darimu. Dengan membuatmu marah, aku jadi bisa membuatmu terus melihatku dan mengingatku. Karena, jika tidak begitu, kamu pasti tidak akan memperhatikanku.” Ucapnya lembut. Baru kali ini Dinda melihat Adit begitu.
“Kenapa kamu berbuat seperti ini?” tanya Dinda akhirnya.
“Ya…, tentu saja.., karena.. karena, aku suka sama kamu!” kata – kata Adit cukup membuat Dinda melongo melihat Adit yang tersipu malu. “Jangan bengong!” Adith mengibaskan tangannya. “Aku itu beneran suka, tauk! Sekarang, kamu mau jadi pacarku nggak?” lanjutnya. Tapi Dinda hanya terdiam. Tak menyangka musuh bebuyutannya sejak kecil bisa menyukainya. Padahal dia juga menyukai Adit di sisi lainnya saat menjadi Si A.G. “Dinda, kumohon. Kita mulai semua dari awal lagi, ya?” tutur Adit lembut.
“Ba, baiklah.. Kalau begitu.” Akhirnya Dinda buka suara setelah 5 menit berpikir.
“Makasih, ya!” Adit tersenyum lembut pada Dinda membuat Dinda terkesan. Ternyata Adit manis juga, pikirnya.

__TAMAT__

Cerpen kakakku

Hello... Berikut ini adalah cerpen - cerpen dari kakakku. Hanya saja, saya yang mengembangkannnya. Tapi ini asli dari idenya sendiri. Silahkan dibaca...! :-)


CEWEKKU MACHO SEKALI
(By: Reska R. Putri and Ratih)
“Hahaha…, makanya kalo jalan tuh jangan goyang pinggul, dong! Dasar cowok centil!” kata Clara menertawakan Aldi yang jatuh di lantai koridor akibat senggolanya.
“Duh…, sakit, nih!” kata Aldi sambil berusaha berdiri. Bukannya menolong, Clara malah masih tertawa di depannya. “Dasar cewek pendek!” katanya lagi.
“Hah?! Apa kamu bilang?! Ngelawan, ya?!” Cewek 16 tahun itu langsung menunjukkan tinjunya yang segede bola basket. Di kasih lihat begitu, Aldi malah ngeri. Dia kemudian lari terbirit – birit ninggalin Clara. “Heh! Awas kamu, ya!?” teriak Clara jengkel.
“Kamu masih aja gangguin cowok itu, Ra?” Mita tiba – tiba nongol di belakang Clara. Cewek tinggi berambut sebahu itu mengagetkan Clara.
“Kamu juga, kenapa masih ngebelain dia?” kata Clara kemudian. Ditanya begitu, Mita malah tersenyum.
“Emangnya kenapa kalo aku masih bela- belain dia? Kamu cemburu, ya?” kata Mita sedikit mengejek. Kontan saja wajah bundar Clara memerah.
“Ngapain aku cemburu sama cowok yang nggak jelas kelaminnya kayak dia?!” Clara mencoba mengelak seraya berjalan duluan. Mita menyusulnya dan mensejajarkan langkahnya.
“Bukannya nggak aneh, kalo kamu dari SMP selalu gangguin dia?” tanya Mita masih penasaran. Clara diam saja.
“Aku cuma nggak suka aja liat gayanya yang feminin abis kayak gitu!” jawab Clara akhirnya seraya menaruh tas ranselnya di atas kursi pinggir lapangan. Mita pun mengikutinya. “Lagian, dia juga salah! Udah 17 tahun, tapi masiiih aja suka sama Barbie!” lanjutnya kemudian sambil mengambil baju karatenya dari ranselnya. Mita duduk di sebelah tasnya.
“Tapi, kalo dipikir – pikir, kamu perhatian juga, ya!” kata Mita sambil tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya.
“Udah, deh, Ta! Berhenti ngomongin dia lagi! Malas aku mikirnya!” kata Clara kemudian beranjak pergi ke toilet untuk ganti baju.
 ***
Sedang asyik – asyiknya mereka ngobrol sepulang latihan karate, Clara dan Mita dikagetkan dengan kejadian di belakang gang samping sekolah mereka. Awalnya mereka ingin cuek saja karena mengira itu kenakalan preman sekolah biasa. Tapi setelah mata sipit kecokelatan Clara menangkap sosok Aldi yang sedang di pukul oleh preman sekolah itu, Clara akhirnya lari menuju kumpulan preman sekolah yang sedang mengeroyok Aldi. Tanpa basa – basi, Clara langsung menghajar habis 4 orang preman sekolah itu dalam waktu 5 menit. Aldi sempat tertegun dibuatnya. “Ayo, Di! Kita cabut dari sini!” kata Clara sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Aldi yang jatuh terduduk.
“Makasih, Ra!” cowok berkulit putih itu tersenyum pada Clara. Melihatnya begitu, Clara langsung melangkah pergi dari situ karena takut mukanya yang memerah dilihat olehnya.
“Ayo kita pulang, Ta!” Clara langsung menarik tangan Mita yang sedang keheranan melihat Clara. Sedangkan Aldo jadi bingung dibuatnya.
 ***
“Kenapa, sih, tiga hari ini kamu jauhi aku terus?” tanya Aldo yang tiba – tiba muncul di depan Clara, membuat Clara yang sedang minum tersedak setengah mati. “Kamu nggak apa – apa,Ra?” lanjutnya sambil menepuk – nepuk bahunya pelan. Tapi Clara malah memukul tangannya.
“Ngapain kamu datang ke sini?” tanyanya akhirnya setelah agak lama tebatuk – batuk.
“Aku nyariin kamu.” Kata Aldi polos sambil duduk di sebelah Clara. Di bilang begitu, Clara jadi  bengong. Tapi Aldi malah pasang tampang serius. “Ra, kenapa, sih kamu jauhin aku terus seminggu ini? Bahkan, tiap kita ketemu, kamu pasti pergi duluan!” Aldi menatap Clara lekat – lekat, membuat Clara salah tingkah.
“Memangnya kenapa kalo aku jauhin kamu? Mestinya kamu senang, dong, karena aku nggak pernah ketawain kamu lagi!” jawab Clara berusaha sesantai mungkin.
“Kalau kamu hindari aku terus, aku kan jadi nggak punya kesempatan untuk ngomong” kata Aldi.
“Ya, udah. Sekarang kamu mau ngomong apa?” kata Clara lalu kemudian meneguk kembali air minumnya dalam botol sport-nya. Dia memang sangat kehausan, karena selama dua jam teriak – teriak mengajar anak kelas X untuk membanting lawan di latihan sore tadi.
“Aku mau bilang… Kalo… sebenernya... Aku, aku suka sama kamu!” jawab Aldi dengan muka merah yang terlihat jelas di wajah imutnya itu. Mendengar hal itu, kontan saja Clara menyemburkan air yang sudah di tenggorokannya dengan cepat dan kencang sesaat setelahnya.
“Uhuk… Uhuk…” Clara sedikit terbatuk. “Kamu… Bercanda, kan, Di?” sambungnya.
“Enggak, dong! Untuk apa aku bercanda di saat begini!” jawab Aldi tegas, sehingga terdengar agak jantan di telinga Clara. “Makanya…”
“ENGGAK!! Jawabannya tidak!” Clara memotong kata – kata Aldi. “Aku nggak mau punya cowok banci kayak kamu!” lanjutnya lagi membuat Aldi hampir menangis. Melihat itu, Clara jadi kasihan dibuatnya. Tapi Mita yang sudah selesai ganti baju datang menghampiri mereka dan langsung menarik Clara untuk pulang karena sudah jam 5 sore. Clara yang kasihan melihatnya kemudian berbalik dan berteriak dari tempatnya berdiri, “Kuberi kamu waktu sebulan untuk jadi ‘cowok’. Kalo bisa, aku pasti terima!” kata – kata Clara membuat Aldi mendongak dan terkejut. Aldi akhirnya tersenyum padanya dan Clara kemudian berbalik pergi dari lapangan itu. Mita malah bingung mendengarnya. Clara kemudian berbisik pada Mita, “Huh, dia pasti nggak akan bisa!”
***
Jam istirahat pertama, Clara terlihat di pinggir pintu kelas XI IPA 6. Dia celingukan melihat ke dalam ruangan kelas itu. “Hayoo…, lagi nyari siapa!??” suara Mita yang berdiri di belakang Clara membuatnya terlonjak setengah mati. “Kangen sama Aldi, ya??!” Mita tersenyum jahil pada Clara.
“Si… Siapa bilang!?” kata Clara sedikit terbata – bata. Tiba – tiba Jenny melintas di depan mereka. Clara yang dulu teman sekelas saat masih kelas VIII, langsung menarik tangan cewek jangkung itu. “Ni, kamu sekelas sama Aldi, kan?” tanya Clara langsung. Jenny hanya mengangguk membuat kuncir rambutnya bergoyang – goyang. “Kamu tau nggak Aldi di mana?” tanyanya lagi.
“Nggak tau, Ra. Sudah sebulan ini dia jarang masuk. Nggak tau, tuh, kenapa.” Jawab Jenny singkat. Mendengar itu, Clara melepas genggamannya.
“Ya, udah, deh, kalo gitu. Makasih, ya, Ni!” kata Clara akhirnya dan berjalan menjauhi kelas itu. Mita yang kebingungan melihat Clara akhirnya mengikutinya.
“Kamu khawatir sama dia?” kata Mita akhirnya. “Kalo kamu khawatir, kenapa kamu nggak coba ke rumahnya aja, Ra?” sambung Mita kemudian membuat Clara menghentikan langkahnya.
“Bener juga, ya, Ra!” katanya sumringah. “Eh, tapi… bukannya hari ini ada latihan sore, Ta?” Clara terlihat berpikir.
“Alaah.., nggak usah dipikirin! Apa, sih, gunanya aku menjabat sebagai wakil ketua?!” Mita tersenyum pada Clara.
“Iya, ya! Kamu bener juga! Nggak ada salahnya juga aku nunjuk kamu sebagai wakilku!” kata Clara tersenyum senang.
“Mita gitu, loh!” jawabnya, lalu mereka sama – sama tertawa.
Sepulang sekolah, Clara benar – benar pergi ke rumah Aldi. Dia memutuskan untuk meminjam motor kakaknya karena rumah Aldi lumayan jauh dari rumahnya. Belum sampai di rumah Aldi, mata Clara menangkap sesosok yang familiar di lapangan basket dekat rumahnya Aldi. Clara kemudian menghentikan motornya dan berjalan menuju lapangan itu. Tiba – tiba saja Clara jadi patung batu saat melihat Aldi yang sedang bermain basket sendirian di situ. Tanpa sadar, Clara jadi terpesona melihatnya. Karena dalam mata Clara, Aldi yang main basket bukanlah Aldi yang suka main Barbie. Gaya mainnya tidaklah seperti perempuan lagi. Clara tidak percaya melihat kejadian di depan matanya itu. Dia baru tersadar saat bola Aldi mengenai lengan Clara.
“Clara?!” Aldi malah kaget melihatnya. Clara juga jadi salah tingkah karena kedapatan bengong melihat Aldi yang lagi main basket.
“Eh… Hai!” sapa Clara lalu memungut bola itu dan memberikannya pada Aldi yang sedang berdiri di tengah lapangan. Aldi kemudian mengambil bolanya dari tangan Clara dan memantulkannya dan menggiring bola itu masuk ke ring. “Eh, Di, ehm…, anu.., sejak kapan kamu jago main basket.” Kata Clara terbata – bata.
“Udah lama, sih. Emang kenapa?” jawab Aldi sambil berjalan menghampiri Clara. Saat itu clara baru sadar kalo tubuh Aldi terlihat tambah tinggi. Bukannya menjawab, Clara malah memandangi cowok di depannya itu. Selain tubuhnya yang tambah tinggi, ototnya juga mulai terisi. Mungkin karena Clara tak pernah melihatnya memakai baju bebas, jadi Aldi yang bermandi keringat begini terlihat keren.
“Nggak mungkin” kata – kata itu keluar sendiri dari mulut Clara. Aldi jadi heran mendengarnya.
“Terus, kamu ngapain ke sini?” suara Aldi terdengar berat, Clara mendongak dan ternyata  Clara baru sadar kalo Aldi sudah punya jakun. “Ra…? Kamu kenapa?” tanya Aldi lagi.
“Eh.. Ah.., eeng…, nggak. Aku tadi kebetulan lewat di sini.” Kata Clara kikuk. Tapi Aldi malah bingung. Alasannya, jalan di situ bukan jalan poros dan di ujung jalan dekat rumahnya adalah jalan buntu. Aldi malah tersenyum melihatnya.
“Kamu khawatir sama aku?” tanya Aldi akhirnya sambil tersenyum. Muka Clara jadi memerah.
“Ng…, nggak, kok!” jawabnya sambil menunduk, takut wajahnya jadih lebih merah dari ini. Aldi kemudian memegang kedua bahunya dan mengangkat wajah Clara. Clara jadi terkejut melihat wajah Aldi sedekat ini.
“Jadi gimana?” tanya Aldi sambil tersenyum dan menatap Clara lurus – lurus.
“Gimana apanya?” Clara berlagak pilon. Bukannya menjawab, Aldi malah terdiam memandangi Clara lekat – lekat. Membuat Clara kehabisan kata – kata. Sehingga, Clara hanya mengangguk, “Iya…” katanya pelan.
“Serius?! Kamu nggak bohong, kan?” kata Aldi bersemangat sampai mengguncang – guncang tubuh mungil Clara.
“Iya! Iya…! Duh…, lepasin! Kalo nggak ku tendang kamu!” kata Clara mengancam, tapi Aldi malah tersenyum senang, membuat Clara jadi ikutan senang.
 _TAMAT_


Bagaimana menurut kalian?? Aku tunggu komentarnya yah...!?  ^_^

Mengenai Saya

Foto saya
I like drawing and painting very much. I can draw anything in my mind. I love reading manga, especially naruto and bleach! I like writing anything in my mind. Sometimes I singing, dancing,listening to musics, but it just for free my mind. And I LOVE CNBLUE SOO MUCH...!!!

Pengikut