CEWEKKU MACHO SEKALI
(By: Reska R. Putri and Ratih)
(By: Reska R. Putri and Ratih)
“Hahaha…, makanya kalo jalan tuh jangan goyang pinggul, dong! Dasar cowok centil!” kata Clara menertawakan Aldi yang jatuh di lantai koridor akibat senggolanya.
“Duh…, sakit, nih!” kata Aldi sambil berusaha berdiri. Bukannya menolong, Clara malah masih tertawa di depannya. “Dasar cewek pendek!” katanya lagi.
“Hah?! Apa kamu bilang?! Ngelawan, ya?!” Cewek 16 tahun itu langsung menunjukkan tinjunya yang segede bola basket. Di kasih lihat begitu, Aldi malah ngeri. Dia kemudian lari terbirit – birit ninggalin Clara. “Heh! Awas kamu, ya!?” teriak Clara jengkel.
“Kamu masih aja gangguin cowok itu, Ra?” Mita tiba – tiba nongol di belakang Clara. Cewek tinggi berambut sebahu itu mengagetkan Clara.
“Kamu juga, kenapa masih ngebelain dia?” kata Clara kemudian. Ditanya begitu, Mita malah tersenyum.
“Emangnya kenapa kalo aku masih bela- belain dia? Kamu cemburu, ya?” kata Mita sedikit mengejek. Kontan saja wajah bundar Clara memerah.
“Ngapain aku cemburu sama cowok yang nggak jelas kelaminnya kayak dia?!” Clara mencoba mengelak seraya berjalan duluan. Mita menyusulnya dan mensejajarkan langkahnya.
“Bukannya nggak aneh, kalo kamu dari SMP selalu gangguin dia?” tanya Mita masih penasaran. Clara diam saja.
“Aku cuma nggak suka aja liat gayanya yang feminin abis kayak gitu!” jawab Clara akhirnya seraya menaruh tas ranselnya di atas kursi pinggir lapangan. Mita pun mengikutinya. “Lagian, dia juga salah! Udah 17 tahun, tapi masiiih aja suka sama Barbie!” lanjutnya kemudian sambil mengambil baju karatenya dari ranselnya. Mita duduk di sebelah tasnya.
“Tapi, kalo dipikir – pikir, kamu perhatian juga, ya!” kata Mita sambil tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya.
“Udah, deh, Ta! Berhenti ngomongin dia lagi! Malas aku mikirnya!” kata Clara kemudian beranjak pergi ke toilet untuk ganti baju.
***
Sedang asyik – asyiknya mereka ngobrol sepulang latihan karate, Clara dan Mita dikagetkan dengan kejadian di belakang gang samping sekolah mereka. Awalnya mereka ingin cuek saja karena mengira itu kenakalan preman sekolah biasa. Tapi setelah mata sipit kecokelatan Clara menangkap sosok Aldi yang sedang di pukul oleh preman sekolah itu, Clara akhirnya lari menuju kumpulan preman sekolah yang sedang mengeroyok Aldi. Tanpa basa – basi, Clara langsung menghajar habis 4 orang preman sekolah itu dalam waktu 5 menit. Aldi sempat tertegun dibuatnya. “Ayo, Di! Kita cabut dari sini!” kata Clara sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Aldi yang jatuh terduduk.
“Makasih, Ra!” cowok berkulit putih itu tersenyum pada Clara. Melihatnya begitu, Clara langsung melangkah pergi dari situ karena takut mukanya yang memerah dilihat olehnya.
“Ayo kita pulang, Ta!” Clara langsung menarik tangan Mita yang sedang keheranan melihat Clara. Sedangkan Aldo jadi bingung dibuatnya.
***
“Kenapa, sih, tiga hari ini kamu jauhi aku terus?” tanya Aldo yang tiba – tiba muncul di depan Clara, membuat Clara yang sedang minum tersedak setengah mati. “Kamu nggak apa – apa,Ra?” lanjutnya sambil menepuk – nepuk bahunya pelan. Tapi Clara malah memukul tangannya.
“Ngapain kamu datang ke sini?” tanyanya akhirnya setelah agak lama tebatuk – batuk.
“Aku nyariin kamu.” Kata Aldi polos sambil duduk di sebelah Clara. Di bilang begitu, Clara jadi bengong. Tapi Aldi malah pasang tampang serius. “Ra, kenapa, sih kamu jauhin aku terus seminggu ini? Bahkan, tiap kita ketemu, kamu pasti pergi duluan!” Aldi menatap Clara lekat – lekat, membuat Clara salah tingkah.
“Memangnya kenapa kalo aku jauhin kamu? Mestinya kamu senang, dong, karena aku nggak pernah ketawain kamu lagi!” jawab Clara berusaha sesantai mungkin.
“Kalau kamu hindari aku terus, aku kan jadi nggak punya kesempatan untuk ngomong” kata Aldi.
“Ya, udah. Sekarang kamu mau ngomong apa?” kata Clara lalu kemudian meneguk kembali air minumnya dalam botol sport-nya. Dia memang sangat kehausan, karena selama dua jam teriak – teriak mengajar anak kelas X untuk membanting lawan di latihan sore tadi.
“Aku mau bilang… Kalo… sebenernya... Aku, aku suka sama kamu!” jawab Aldi dengan muka merah yang terlihat jelas di wajah imutnya itu. Mendengar hal itu, kontan saja Clara menyemburkan air yang sudah di tenggorokannya dengan cepat dan kencang sesaat setelahnya.
“Uhuk… Uhuk…” Clara sedikit terbatuk. “Kamu… Bercanda, kan, Di?” sambungnya.
“Enggak, dong! Untuk apa aku bercanda di saat begini!” jawab Aldi tegas, sehingga terdengar agak jantan di telinga Clara. “Makanya…”
“ENGGAK!! Jawabannya tidak!” Clara memotong kata – kata Aldi. “Aku nggak mau punya cowok banci kayak kamu!” lanjutnya lagi membuat Aldi hampir menangis. Melihat itu, Clara jadi kasihan dibuatnya. Tapi Mita yang sudah selesai ganti baju datang menghampiri mereka dan langsung menarik Clara untuk pulang karena sudah jam 5 sore. Clara yang kasihan melihatnya kemudian berbalik dan berteriak dari tempatnya berdiri, “Kuberi kamu waktu sebulan untuk jadi ‘cowok’. Kalo bisa, aku pasti terima!” kata – kata Clara membuat Aldi mendongak dan terkejut. Aldi akhirnya tersenyum padanya dan Clara kemudian berbalik pergi dari lapangan itu. Mita malah bingung mendengarnya. Clara kemudian berbisik pada Mita, “Huh, dia pasti nggak akan bisa!”
***
Jam istirahat pertama, Clara terlihat di pinggir pintu kelas XI IPA 6. Dia celingukan melihat ke dalam ruangan kelas itu. “Hayoo…, lagi nyari siapa!??” suara Mita yang berdiri di belakang Clara membuatnya terlonjak setengah mati. “Kangen sama Aldi, ya??!” Mita tersenyum jahil pada Clara.
“Si… Siapa bilang!?” kata Clara sedikit terbata – bata. Tiba – tiba Jenny melintas di depan mereka. Clara yang dulu teman sekelas saat masih kelas VIII, langsung menarik tangan cewek jangkung itu. “Ni, kamu sekelas sama Aldi, kan?” tanya Clara langsung. Jenny hanya mengangguk membuat kuncir rambutnya bergoyang – goyang. “Kamu tau nggak Aldi di mana?” tanyanya lagi.
“Nggak tau, Ra. Sudah sebulan ini dia jarang masuk. Nggak tau, tuh, kenapa.” Jawab Jenny singkat. Mendengar itu, Clara melepas genggamannya.
“Ya, udah, deh, kalo gitu. Makasih, ya, Ni!” kata Clara akhirnya dan berjalan menjauhi kelas itu. Mita yang kebingungan melihat Clara akhirnya mengikutinya.
“Kamu khawatir sama dia?” kata Mita akhirnya. “Kalo kamu khawatir, kenapa kamu nggak coba ke rumahnya aja, Ra?” sambung Mita kemudian membuat Clara menghentikan langkahnya.
“Bener juga, ya, Ra!” katanya sumringah. “Eh, tapi… bukannya hari ini ada latihan sore, Ta?” Clara terlihat berpikir.
“Alaah.., nggak usah dipikirin! Apa, sih, gunanya aku menjabat sebagai wakil ketua?!” Mita tersenyum pada Clara.
“Iya, ya! Kamu bener juga! Nggak ada salahnya juga aku nunjuk kamu sebagai wakilku!” kata Clara tersenyum senang.
“Mita gitu, loh!” jawabnya, lalu mereka sama – sama tertawa.
Sepulang sekolah, Clara benar – benar pergi ke rumah Aldi. Dia memutuskan untuk meminjam motor kakaknya karena rumah Aldi lumayan jauh dari rumahnya. Belum sampai di rumah Aldi, mata Clara menangkap sesosok yang familiar di lapangan basket dekat rumahnya Aldi. Clara kemudian menghentikan motornya dan berjalan menuju lapangan itu. Tiba – tiba saja Clara jadi patung batu saat melihat Aldi yang sedang bermain basket sendirian di situ. Tanpa sadar, Clara jadi terpesona melihatnya. Karena dalam mata Clara, Aldi yang main basket bukanlah Aldi yang suka main Barbie. Gaya mainnya tidaklah seperti perempuan lagi. Clara tidak percaya melihat kejadian di depan matanya itu. Dia baru tersadar saat bola Aldi mengenai lengan Clara.
“Clara?!” Aldi malah kaget melihatnya. Clara juga jadi salah tingkah karena kedapatan bengong melihat Aldi yang lagi main basket.
“Eh… Hai!” sapa Clara lalu memungut bola itu dan memberikannya pada Aldi yang sedang berdiri di tengah lapangan. Aldi kemudian mengambil bolanya dari tangan Clara dan memantulkannya dan menggiring bola itu masuk ke ring. “Eh, Di, ehm…, anu.., sejak kapan kamu jago main basket.” Kata Clara terbata – bata.
“Udah lama, sih. Emang kenapa?” jawab Aldi sambil berjalan menghampiri Clara. Saat itu clara baru sadar kalo tubuh Aldi terlihat tambah tinggi. Bukannya menjawab, Clara malah memandangi cowok di depannya itu. Selain tubuhnya yang tambah tinggi, ototnya juga mulai terisi. Mungkin karena Clara tak pernah melihatnya memakai baju bebas, jadi Aldi yang bermandi keringat begini terlihat keren.
“Nggak mungkin” kata – kata itu keluar sendiri dari mulut Clara. Aldi jadi heran mendengarnya.
“Terus, kamu ngapain ke sini?” suara Aldi terdengar berat, Clara mendongak dan ternyata Clara baru sadar kalo Aldi sudah punya jakun. “Ra…? Kamu kenapa?” tanya Aldi lagi.
“Eh.. Ah.., eeng…, nggak. Aku tadi kebetulan lewat di sini.” Kata Clara kikuk. Tapi Aldi malah bingung. Alasannya, jalan di situ bukan jalan poros dan di ujung jalan dekat rumahnya adalah jalan buntu. Aldi malah tersenyum melihatnya.
“Kamu khawatir sama aku?” tanya Aldi akhirnya sambil tersenyum. Muka Clara jadi memerah.
“Ng…, nggak, kok!” jawabnya sambil menunduk, takut wajahnya jadih lebih merah dari ini. Aldi kemudian memegang kedua bahunya dan mengangkat wajah Clara. Clara jadi terkejut melihat wajah Aldi sedekat ini.
“Jadi gimana?” tanya Aldi sambil tersenyum dan menatap Clara lurus – lurus.
“Gimana apanya?” Clara berlagak pilon. Bukannya menjawab, Aldi malah terdiam memandangi Clara lekat – lekat. Membuat Clara kehabisan kata – kata. Sehingga, Clara hanya mengangguk, “Iya…” katanya pelan.
“Serius?! Kamu nggak bohong, kan?” kata Aldi bersemangat sampai mengguncang – guncang tubuh mungil Clara.
“Iya! Iya…! Duh…, lepasin! Kalo nggak ku tendang kamu!” kata Clara mengancam, tapi Aldi malah tersenyum senang, membuat Clara jadi ikutan senang.
_TAMAT_
Bagaimana menurut kalian?? Aku tunggu komentarnya yah...!? ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar